Pedang dan Kitab Suci

Puteri Harum dan Kaisar /Pedang dan Kitab Suci

Karya Besar Khu Lung dan telah di film-kan dalam 2 versi

Rembulan sisir tampak diantara aliran sebuah sungai. Didekat situ tampak sebuah kuburan, dimana ada beberapa orang tengah menyanyi dan menangis.

Mereka menyanyikan lagu berkabung dari suku Ui. Tan Keh Lok dan Ceng Tong buru-buru turun
dari kudanya, dan bertanya: “Kamu sedang berkabung untuk siapa?” Seorang tua Ui dengan berCucuran air mata, menyahut: “Hiang Hiang KiongCu!” (Puteri Harum) “Hiang Hiang KiongCu dimakamkan disini?” tanya Keh Lok dengan terkejut 
Menunjuk kepada sebuah kuburan baru yang masih belum kering, orang itu menyahut pula: “Ya, itulah!” “Tak boleh kita biarkan adik dikubur disini!” tiba- Ceng Tong menangis.
“Benar, ia senang akan Telaga Warna didalam perut gunung Sin-nia. Sering ia mengatakan: ‘aku akan merasa bahagia kalau dapat berada disini selama-lamanya’. Kita pindahkan jenazahnya kesana saja!” kata Keh Lok. “Siapa kalian ini?” tanya orang tua Ui tadi.
“Aku adalah Cici dari Hiang Hiang KiongCu!” sahut sigadis. “Ah, kau tentu Chui-ih-wi-sam, aku dulu menjadi anak buah dari regu ke 2 pasukan Pek Ki, pernah bertempur dibawah perintahmu,” tiba-tiba seorang Ui lain berseru.
Begitulah orang-orang Ui dan orang-orang gagah HONG HWA HWE dibantu pula oleh paderi 2 Siao Lim Si mulai menggali. Dalam sekejap saja, terbongkarlah sudah makam itu. Ketika papan batu yang menutup lubang tempat jenazah diangkat, hawa harum menyerbak keras. Tapi untuk kekagetan orang-orang itu, mereka dapatkan lubang itu kosong melompong. Keh Lok menyuluhinya dengan obor, yang tampak hanya segumpal darah ke-biru 2an, disamping situ terletak batu giok pemberiannya kepada Hiang Hiang dulu.
“Jenazah itu kami sendiri yang menanamnya disini. Dan sejak itu kami terus menungguinya disini. Mengapa kini jenazah itu hilang?” juga orang-orang Ui itu menyatakan keheranannya. “Nona itu sedemikian Cantiknya, tentulah titisan dewi. Kini ia tentu sudah kembali ketempat asalnya. Cici Ceng Tong dan CongthoCu harap yangan bersedih,” menghibur Lou Ping.
Keh Lok memungut, mainan giok itu untuk disimpannya. Diapun agak mempercajai keterangan Lou Ping itu. Tiba-tiba angin mengembus, dan bau harum kembali menyampok hidung orang-orang itu. Lewat beberapa saat kemudian, mereka menguruk kuburan itu lagi. Seekor kupu 2, entah dari mana datangnya tampak terbang diatas kuburan tersebut. “Akan kutulis beberapa huruf, harap nanti kau suruh “tukang yang pandai mengukirnya diatas batu nisan dan dif pasang dimuka kuburan ini,” kata Keh Lok kepada siorang tua tadi.
Cepat Sun Hi mengambil 2 potong emas untuk diserahkan kepada orang1 Ui itu. Lalu diambilnya kertas dan alat tulis. Setelah merenung sejurus, mulailah Keh Lok menulis sebuah sjair:
Penderitaan yang hebat, hati yang berkabut sesal, berakhirlah nyanyian merdu, susutlah sang rembulan. Didalam kota nan indah, terdapat segumpal darah kemilau. Sesaat kilau pudar, sesaat darah lenyap. Namun ban harum semerbak senantiasa! Benarkah gerangan dia? Menjelma seekor kumis.
Setelah mengheningkan Cipta sampai sekian lama, barulah rombongan orang-orang gagah itu berangkat kearah barat. Matahari bersinar gilang gemilang diufuk timur. Dan sampai disini Cerita ini telah: TAMAT. …. Pedang dan Kitab Suci

Download

About these ads
This entry was posted in Cerita Silat, Khu lung, Silat Mandarin and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s